Telolet Membawa Petaka
Akhir
2016 ini masyarakat Indonesia sendang gempar dengan adanya “om telolet om” ,
banyak warga indonesia yang antusias untuk merekam atau sekedar melihat bis
yang lalu lalang di jalan raya dan meminta sopir bus tersebut untuk membunyikan
klakson telolet yang khas itu. Salah satu orang yang antusias untuk merekam
suara telolet salah satunya si Didin , Didin mengetahui kepopuleran suara
telolet itu dari sosial medianya dan ia menginginkan untuk mempublikasikan
rekamannya itu di sosial medianya. Ya ..biar bisa dibillang gaul kata anak
jaman sekarang sih hits.
Liburan
kali ini Didin merencanakan untuk memburu suara telolet dan ia telah mengajak
sahabat sahabatnya yang bernama Rino dan Diko untuk ikut denganya. Pagi hari
jam 09.00 Didin,Riko dan Dik sudah berada di jalan raya Magelang – Jogja untuk
memburu suara telolet tersebut. Dia kegirangan dan tidak sabar untuk berteriak ‘Om
tellolet om” hingga dia lupa untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan ia
hanya mengatakan pada adiknya si Sri bahwa ia akan ke pinggir jalan raya Magelang-
Jogja untuk merekam suara telolet itu. “Din.. Didin iki bis e kok ora teko teko
to,” seru Riko kesal . “Mbok yang sabar to Rin dadi wong kok rasabaran wah
payah,” celetuk Diko. “ Nah bener kui, sing sabar sik Rin,” Didin menambahkan
dengan ketus.
Saat
mereka menunggu sampai mereka merasa bosan,akhirnya yang mereka harapkan
terwujud,dari kejauhan nampak bis dari arah Jogja –Magelang menuju kearah
mereka bertiga. Didin,Rino juga Diko kegirangan dan segera berlari untuk
memberhentikan bis tersebut untuk meminta bis tersebut membunyikan teloletnya,
mereka berteriak teriak om telolet om dengan semangat. “WOIII ayo dong kita
bareng bareng teriak om telolet om biar seru,” seru Didin dengan semangat. Tidak
terasa posisi mereka yang tadinya tidak dekat dengan jalan raya kini menjadi
dekat dengan jalan raya yang dilaui banyak motor motor sehingga membahayakan
keselamatan mereka bertiga. Semangat yang menggebu nggebu untuk merekam suara
klakson tersebut membuat mereka lupa waktu dan mereka rela mengejar bis bis
itu. Saat mereka mengejar bis te bis yang lalu lalang tiba tiba dari belakang
posisi Diko dan Rino terdengar suara BRAAKKK...NGIINGG...DUAARR. Ternyata Rino
dan Diko tidak menyadari bahwa mereka berdua meninggalkan si Didin, Didin
tertinggal oleh Diko dan Rino hingga ia berusaha mengejar mereka berdua tiba
tiba dari arah belakang Didin ditabrak oleh sepeda motor. Rino dan Diko
berbalik arah lalu dengan sigap membantu Didin yang masih bebrabring di tanah
dengan lemas. “ Din kamu gapapa ? “ tanya Rino mencemaskan keadaan si Didin. “
Ah tidak apa apa,aku hanya sakit sedikit di kaki ku,”Didin berusaha menenagkan
hati kedua sahabatnya itu. “ Wes din mending saiki kita pulang wae daripada
nanti ada apa apa lagi,” saran Diko. “ Yasudah yoo kita pulang,” Didin setuju.
Disisi
lain, ibu Didin sedang mencari kebradaan Didin yang sedari tadi tidak terlihat
olehnya,lalu ia menanyakan pada adiknya,Sri. “Sri, “Didin ke mana, sudah sejak
pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.“Mas Didin pergi bersama
teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawab Sri.“O
alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk
sangu akhirat. Sudah mending kamu cari itu masmu ke jalan raya,” jawab Bu
Janah. Sebelum Sri menyusul Didin ke jalan raya ternyata Didin dan kedua
temanya itu sudah sampai pulang dengan muka yang sedih.” Eh eh ini kenapa sama
si Didin?kok kakinya luka luka begini?” Bu Janah menanyakan pada Diko dan Rino.
“ Anu Bu.. Didin habis ditabrak sama motor waktu di jalan raya,” jawab Diko. “Nah
to kualat sama Ibu kamu Din.. sudah ibu bilang itu bahaya buat keselamatan
kamu!sudah sekarang kamu masuk rumah” Perintah Bu Janah pada Didin. “Baik Bu,”
Didin menjawab dengan kepala menunduk. “Makasih ya Mas Diko sama Mas Rino sudah
mau mengantarkan Didin sampai rumah,”jawab Bu Janah. “Sama sama,saya sama Diko
pulang dulu ya Bu.Assalamualaikum” ucap Rino berpamitan pada Bu janah. “wa’alaikumsallam”jawab
Bu Janah.