Rabu, 04 Januari 2017

TUGAS CERPEN



            Telolet Membawa Petaka


Akhir 2016 ini masyarakat Indonesia sendang gempar dengan adanya “om telolet om” , banyak warga indonesia yang antusias untuk merekam atau sekedar melihat bis yang lalu lalang di jalan raya dan meminta sopir bus tersebut untuk membunyikan klakson telolet yang khas itu. Salah satu orang yang antusias untuk merekam suara telolet salah satunya si Didin , Didin mengetahui kepopuleran suara telolet itu dari sosial medianya dan ia menginginkan untuk mempublikasikan rekamannya itu di sosial medianya. Ya ..biar bisa dibillang gaul kata anak jaman sekarang sih hits.

Liburan kali ini Didin merencanakan untuk memburu suara telolet dan ia telah mengajak sahabat sahabatnya yang bernama Rino dan Diko untuk ikut denganya. Pagi hari jam 09.00 Didin,Riko dan Dik sudah berada di jalan raya Magelang – Jogja untuk memburu suara telolet tersebut. Dia kegirangan dan tidak sabar untuk berteriak ‘Om tellolet om” hingga dia lupa untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan ia hanya mengatakan pada adiknya si Sri bahwa ia akan ke pinggir jalan raya Magelang- Jogja untuk merekam suara telolet itu. “Din.. Didin iki bis e kok ora teko teko to,” seru Riko kesal . “Mbok yang sabar to Rin dadi wong kok rasabaran wah payah,” celetuk Diko. “ Nah bener kui, sing sabar sik Rin,” Didin menambahkan dengan ketus.

Saat mereka menunggu sampai mereka merasa bosan,akhirnya yang mereka harapkan terwujud,dari kejauhan nampak bis dari arah Jogja –Magelang menuju kearah mereka bertiga. Didin,Rino juga Diko kegirangan dan segera berlari untuk memberhentikan bis tersebut untuk meminta bis tersebut membunyikan teloletnya, mereka berteriak teriak om telolet om dengan semangat. “WOIII ayo dong kita bareng bareng teriak om telolet om biar seru,” seru Didin dengan semangat. Tidak terasa posisi mereka yang tadinya tidak dekat dengan jalan raya kini menjadi dekat dengan jalan raya yang dilaui banyak motor motor sehingga membahayakan keselamatan mereka bertiga. Semangat yang menggebu nggebu untuk merekam suara klakson tersebut membuat mereka lupa waktu dan mereka rela mengejar bis bis itu. Saat mereka mengejar bis te bis yang lalu lalang tiba tiba dari belakang posisi Diko dan Rino terdengar suara BRAAKKK...NGIINGG...DUAARR. Ternyata Rino dan Diko tidak menyadari bahwa mereka berdua meninggalkan si Didin, Didin tertinggal oleh Diko dan Rino hingga ia berusaha mengejar mereka berdua tiba tiba dari arah belakang Didin ditabrak oleh sepeda motor. Rino dan Diko berbalik arah lalu dengan sigap membantu Didin yang masih bebrabring di tanah dengan lemas. “ Din kamu gapapa ? “ tanya Rino mencemaskan keadaan si Didin. “ Ah tidak apa apa,aku hanya sakit sedikit di kaki ku,”Didin berusaha menenagkan hati kedua sahabatnya itu. “ Wes din mending saiki kita pulang wae daripada nanti ada apa apa lagi,” saran Diko. “ Yasudah yoo kita pulang,” Didin setuju.

Disisi lain, ibu Didin sedang mencari kebradaan Didin yang sedari tadi tidak terlihat olehnya,lalu ia menanyakan pada adiknya,Sri. “Sri, “Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.“Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawab Sri.“O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Sudah mending kamu cari itu masmu ke jalan raya,” jawab Bu Janah. Sebelum Sri menyusul Didin ke jalan raya ternyata Didin dan kedua temanya itu sudah sampai pulang dengan muka yang sedih.” Eh eh ini kenapa sama si Didin?kok kakinya luka luka begini?” Bu Janah menanyakan pada Diko dan Rino. “ Anu Bu.. Didin habis ditabrak sama motor waktu di jalan raya,” jawab Diko. “Nah to kualat sama Ibu kamu Din.. sudah ibu bilang itu bahaya buat keselamatan kamu!sudah sekarang kamu masuk rumah” Perintah Bu Janah pada Didin. “Baik Bu,” Didin menjawab dengan kepala menunduk. “Makasih ya Mas Diko sama Mas Rino sudah mau mengantarkan Didin sampai rumah,”jawab Bu Janah. “Sama sama,saya sama Diko pulang dulu ya Bu.Assalamualaikum” ucap Rino berpamitan pada Bu janah. “wa’alaikumsallam”jawab Bu Janah.








1 komentar:

  1. OK terima kasih. Kritik saya hindari kalimat panjang-panjang dalam cerpen atau novel. Gunakan tanda baca (.), (,), (") secara benar. Lebih baik dalam dialog setiap ganti pembicara ganti alinea saja. Berikut sekadar pembetulan sebagian saja.

    Telolet Membawa Petaka

    Akhir 2016 ini masyarakat Indonesia sendang gempar dengan adanya “om telolet om”. Banyak warga Indonesia yang antusias untuk merekam atau sekadar melihat bus yang lalu lalang di jalan raya dan meminta sopir bus tersebut untuk membunyikan klakson telolet yang khas itu. Salah satu orang yang antusias untuk merekam suara telolet salah satunya si Didin. Didin mengetahui kepopuleran suara telolet itu dari sosial medianya dan ia menginginkan untuk mempublikasikan rekamannya itu di sosial medianya. Ya ..biar bisa dibilang gaul kata anak zaman sekarang sih hits.

    Liburan kali ini Didin merencanakan untuk memburu suara telolet. Ia telah mengajak sahabat sahabatnya yang bernama Rino dan Diko untuk ikut denganya. Pagi hari pukul 09.00 Didin, Riko, dan Dik sudah berada di jalan raya Magelang – Jogja untuk memburu suara telolet tersebut. Dia kegirangan dan tidak sabar untuk berteriak ‘Om tellolet om” hingga dia lupa untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia hanya mengatakan pada adiknya, si Sri, bahwa ia akan ke pinggir jalan raya Magelang – Jogja untuk merekam suara telolet itu.
    “Din.. Didin iki bus e kok ora teko-teko to,” seru Riko kesal.
    “Mbok yang sabar to Rin dadi wong kok rasabaran wah payah,” celetuk Diko.
    “Nah bener kui, sing sabar sik Rin,” Didin menambahkan dengan ketus.

    BalasHapus